Home / Bolmong / Mokoginta : Dalam Kebudayaan Mongondow Tidak Ada Patokan Harus Memilih si Ini Dan si Ini

Mokoginta : Dalam Kebudayaan Mongondow Tidak Ada Patokan Harus Memilih si Ini Dan si Ini

BMR,TBnews – Isu isu primordial jadi momok yang menakut dalam kontestasi politik, baik dalam ajang Pilres, Pileg dan Pilkada serentak. Primordialisme yang mengarah pada Suku, Agama, Ras (SARA) jadi bumbu pelengkap dalam memobilisasi kekuatan dan dukungan dari calon pemilih.

Isu primordial coba dimainkan segelintir elit politik untuk membagi kelompok masyarakat menjadi banyak tingkatan. Hal ini pun menunjukan ketidak mampuan dalam mengelola dan memanajemen isu. Minim kompetensi, gagasan dan kreativitas dalam berpolitik.

Politik identitas pun kadang bertolak belakang dengan budaya, adat dan sejarah dalam suatu tatanan social kemasyarakatan. Salah satu peneliti sejarah budaya dan adat Mongondow, Khairun Mokoginta memberikan penjelasan tentang kriteria calon pemimpin berdasarkan kebudayaan Mongondow.

Menurut Mokoginta yang telah meneliti sejarah, budaya dan adat Mongondow sejak tahun 70, terdapat 4 kriteria pemimpin dalam kebudayaan Bolaang Mongondow “Dikebudayaan Mongondow hanya memberikan kriteria untuk menjadi pemimpin. Tapi siapa yang dipilih, leluhur kita tidak memberikan batasan. Kriteria pertama, Mo ko dotol dalam bahasa Mongondow atau patriotisme dalam bahasa keseharian. Ini adalah pemimpin yang mampu menjaga wilayah, rasa aman dan tentram kepada masyartakat. Kedua Mo ko rakup, atau mengayomi seluruh anggota masyrakat. Ini berkaitan dengan pemenuhan masalah ekonomi. Ketiga, Mo kodia atau amanah, ini dalam perspektif budaya Mongondow itu lebih kepada konsistensi dan keempat, Mo ko anga atau simpatik. Ini artinya baik dari sikap dan perilaku, maupun dalam hal kesiapan fisik atau penampilan fisik. Kriteria ini dipakai waktu dahulu pengkaderan menjadi bogani. Saya sebagai peneliti kebudayaan memang belum mendapatkan sebuah patokan atau prinsip kita harus memilih si ini atau si ini,” jelasnya.

Bahkan diungkapkan Mokoginta Didalam berbudaya orang Mongondow mengutamakan 3 hal pertama Mo o ulean atau bila terjadi gesekan dan benturan sesama maka diselesaikan secara damai. Misalnya ule di kapa natua atau saling menasehati. Kedua, Mo o a heran, atau saling menghargai, jadi orang Mongondow itu saling menghargai. Siapapun yang datang ke Mongondow harus diteirma. Tapi tentunya saudarah saudarah kita yang diluar harus menghargai adat dan kebudayaan Mongondow. Ketiga, Mo bo bangkalan atau saling menghormati, artinya yang muda hormat kepada yang tua. Anak kepada orang tua, masyarakat kepada pemimpin, dan masyarakat kepada pendatang harus saling menghormati.

Iapun mengakui sejak meneliti sejarah dan kebudayaan Boalang Mongondow  tahun 70 an hingga saat ini tidak menemukan ada keharus bahwa orang Mongondow harus memilih Mongondow “Karena kriterianya hanya empat, kalau ada kriterianya ke lima bahwa orang Mongondow harus pilih Mongondow, tapikan tidak ada. Adat dan kebudayaan Mongondow dari ribuan tahun hingga saat ini masih relefan kita gunakan. Baik dalam perapektif NKRI dan kemasyarakatan.” Bebernya, smebari menambahkan jika melihat semboyan sembayon Mongondow tidak satupun melarang untuk tidak menerima orang dari luar “Bahkan kalau kita gali dari semboyan semboyan budaya Bolaang Mongondow tidak satupun mengatakan kita tidak boleh menerima orang dari luar, kalau ada yang bisa memberikan referensi dari mana didapatkan. Dari hasil penelitian saya tidak menemukan hal tersebut.” Tegasnya.

Penulis  : Abdi F Sutomo

Bagikan Berita ini
x

Check Also

Pedagang Pasar Aktif di Bolmong Akan Daapt Lapak Baru

Bolmong,TBnews – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang  Mongondow melalui ...